Pengertian IQ, EQ, SQ

Pengertian IQ, EQ, Dan SQ

Nama : Juliana Putri Pasaribu

NIM    :    18.2708    

Semester  :  VI (ENAM)

Mata Kuliah :  Ilmu Jiwa Perkembangan

Dosen Pembimbing  : Dimas Pradifta, M.Pd


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya manusia memiliki tiga potensi yang harus dikembangkan dalam menjalankan eksistensi kehidupanya di muka bumi. Ketiga potensi tersebut adalah kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) , dan kecerdasan spiritual (SQ).

   Kecerdasan merupakan salah satu karunia terbesar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus.

   IQ atau lebih dikenal dengan Intelektual Question merupakan bagian terpenting dalam individu seseorang. Intelektual membantu seseorang dalam menganalisa sesuatu, berfikir secara rasional dan melakukan secara maksimal. Intelektual sering kali menjadi tolak ukur dalam perencanaan program pembelajaran. EQ atau biasa disebut Emotional Question adalah bagian yang menjadi identitas kepribadian seseorang. Emosional yang terjaga baik dan tertata rapi juga akan menghasilkan pribadi yang baik dan berkualitas. Sehingga dalam pelaksanaan proses pembelajaran, emosional peserta didik sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

 SQ atau Spiritual Question merupakan bagian terluar dari individu. Spiritual sering dikaitkan dengan nilai-nilai kepercayaan dan agama atau dalam Islam dikenal dengan Habluminalloh. Kepercayaan juga menjadi faktor penentu pelaksanaan pendidikan, karena setiap manusia memiliki kodrat untuk meyakini sebuah agama.   Ketiga elemen diatas terlihat berbeda dan menganalisa bagian-bagai tertentu dalam individu, namun dalam proses pelaksanaan pembelajaran, ketiga elemen ini saling berkaitan dan mendukung satu sama lain. Tidak jarang ditemukan ditengah lapangan, para ilmuwan yang mempunyai pemikiran brilian, namun terkendala dalam emosinya sehingga sering mengalami gangguan kejiwaan. Banyak juga para ilmuan yang tidak mengenal agama, sehingga ilmu yang ia miliki digunakan pada tempat yang tidak semestinya.

B.     Rumusan Masalah       

1.      Apa Yang Dimaksud Dengan IQ?

2.      Apa Yang Dimaksud Dengan EQ?

3.      Apa Yang Dimaksud Dengan SQ?

 

C.    Manfaat Penulisan

1.      Mengetahui Apa Yang Dimaksud Dengan IQ.

2.      Mengetahui Apa Yang Dimaksud Dengan EQ.

3.      Mengetahui Apa Yang Dimaksud Dengan SQ.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian IQ (Intelectual Quotient)

                        Kecerdasan Intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio, yaitu kecerdasan untuk menerima, menyimpan, dan mengolah informasi menjadi sebuah fakta. IQ juga merupakan kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas akal yang berpusat di otak. Orang yang kecerdasan intelektualnya baik, baginya tidak akan ada informasi yang sulit, semuanya dapat disimpan, diolah dan diinformasikan kembali pada saat dibutuhkan.Proses dalam menerima, menyimpan dan mengolah kembali informasi. Dengan daya pikirnya, manusia berusaha mensejahterakan diri dan kualitas kehidupannya.Pentingnya menggunakan akal sangat dianjurkan oleh Islam.Tidak terhitung banyaknya ayat-ayat Al-Quran dan Hadist Rasulullah SAW yang mendorong manusia untuk selalu berfikir. Manusia tidak hanya disuruh memikirkan dirinya, tetapi juga dipanggil untuk memikirkan alam jagad raya.  Dalam konteks Islam, memikirkan alam semesta akan mengantarkan manusia kepada kesadaran akan ke Maha kuasaan Sang Pencipta (Allah SWT). Dari pemahaman inilah tumbuh tauhid yang murni, ‘’Agama adalah akal, tak ada agama bagi orang-orang yang tidak berakal’’.

                        Beberapa ayat yang menjadi bukti bahwa Allah sangat menuntut manusia untuk terus berpikir:

*      Q.S. Al-Baqarah : 164

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

                        Artinya :  “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, danpengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

                        Pada Q.S Al-Baqarah ayat 164 tersebut  mendorong manusia untuk memikirkan kejadian langit dan bumi, pergantian malam dengan siang dan betapa air hujan mengubah tanah yang tandus menjadi hijau kembali.

*      QS. Ar-Ra’d : 4

وَفِى الْاَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّجَنّٰتٌ مِّنْ اَعْنَابٍ وَّزَرْعٌ وَّنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَّغَيْرُ صِنْوَانٍ يُّسْقٰى بِمَاۤءٍ وَّاحِدٍۙ وَّنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلٰى بَعْضٍ فِى الْاُكُلِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

                        Artinya : Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

                        Ayat diatas mengajak manusia untuk merenungkan betapa variatifnya bentuk, rasa dan warna tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, padahal berasal dari tanah yang sama.

B.     Pengertian EQ (Emotional Quotient)

                        EQ adalah istilah baru yang dipopulerkan oleh Daniel Golleman. Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan psikolog, Goleman (1995) berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan intelektual atau “Intelligence Quotient” (IQ), sedangkan pikiran emosional digerakkan oleh emosi. Daniel Goleman menyatakan dalam bukunya Zohar dan Marshall bahwasannya penelitian dari banyak neurology dan psikolog yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (EQ) sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual.  EQ memberi kita kesadaran mengenai perasaan milik diri sendiri dan juga perasaan milik orang lain. EQ memberi kita rasa empati, cinta, motivasi, dan kemampuan untuk menanggapai kesedihan atau kegembiraan secara tepat.

                        Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional.  Dari nama teknis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.

                        Kecerdasan emosional dapat diartikan dengan kemampuan untuk “menjinakkan” emosi dan mengarahkannya ke pada hal-hal yang lebih positif. Seorang yang mampu mensinergikan potensi intelektual dan potensi emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia utama dilihat dari berbagai segi.
Hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitan yang sangat erat secara fungsional. Antara satu dengan lainnya saling menentukan. Otak berfikir harus tumbuh dari wilayah otak emosional. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional hanya bisa aktif di dalam diri yang memiliki kecerdasan intelektual.

                        Beberapa pengertian EQ yang lain, yaitu :Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk mengenal emosi diri sendiri, emosi orang lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola dengan baik emosi pada diri sendiri dalam berhubungan dengan orang lain (Golleman, 1999). Emosi adalah perasaan yang dialami individu sebagai reaksi terhadap rangsang yang berasal dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Emosi tersebut beragam, namun dapat dikelompokkan kedalam kategori emosi seperti; marah, takut, sedih, gembira, kasih sayang dan takjub (Santrock, 1994).

Ø  Kemampuan mengenal emosi diri adalah kemampuan menyadari perasaan sendiri pada saat perasaan itu muncul dari saat-kesaat sehingga mampu memahami dirinya, dan mengendalikan dirinya, dan mampu membuat keputusan yang bijaksana sehingga tidak ‘diperbudak’ oleh emosinya.

Ø  Kemampuan mengelola emosi adalah kemampuan menyelaraskan perasaan (emosi) dengan lingkungannnya sehingga dapat memelihara harmoni kehidupan individunya dengan lingkungannya/orang lain.

Ø  Kemampuan mengenal emosi orang lain yaitu kemampuan memahami emosi orang lain (empaty) serta mampu mengkomunikasikan pemahaman tersebut kepada orang lain yang dimaksud.

Ø  Kemampuan memotivasi diri merupakan kemampuan mendorong dan mengarahkan segala daya upaya dirinya bagi pencapaian tujuan, keinginan dan cita-citanya. Peran memotivasi diri yang terdiri atas antusiasme dan keyakinan pada diri seseorang akan sangat produktif dan efektif dalam segala aktifitasnya.

Ø  Kemampuan mengembangkan hubungan adalah kemampuan mengelola emosi orang lain atau emosi diri yang timbul akibat rangsang dari luar dirinya. Kemampuan ini akan membantu individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain secara memuaskan dan mampu berfikir secara rasional (IQ) serta mampu keluar dari tekanan (stress).

Manusia dengan EQ yang baik, mampu menyelesaikan dan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan, mudah bersosialisasi, mampu membuat keputusan yang manusiawi, dan berpegang pada komitmen. Makanya, orang yang EQ-nya bagus mampu mengerjakan segala sesuatunya dengan lebih baik.

Kecerdasan Emosi (EQ)  adalah kemampuan untuk mengendalilan emosi dan rasional secara bersamaan dengan kondisi yang tepat. Aristoteles  pernah mengatakan bahwa semua bisa menjadi marah, namu marah dalam kondisi yang tepat tidak dilakukan oleh semua orang”.

Sedangkan EQ menurut Peter Salovey dan John Mayer memberikan defenisi, sebagai berikut: "emotional Intteligence is the ability to perceive emotion, to access and generate emotions so as to assist thought..." melihat dari deinisi tersebut, agar seseorang dapat dikatakan memiliki kecerdasan emo baik, orang itu harus memenuhi syarat, sebagai berikut:

1.      mampu memahami emosi-emosi,

2.      mampu memasuk emosi-emosi

3.      mampu menarik emosi

4.      mampu menggunakan emosi-emosi itu untuk membantu pikirannya.

                        Substansi dari kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi. Orang yang EQ-nya baik, dapat memahami perasaan orang lain, dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal. Semua pemahaman tersebut akan menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya    Dapat dimengerti kenapa orang yang EQ-nya baik, sekaligus kehidupan sosialnya juga baik. Tidak lain karena orang tersebut dapat merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat .

                        Di samping itu, kecerdasan emosional mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan diri. Oleh karena itu EQ mengajarkan bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal) seperti self awamess (percaya diri), self motivation (memotivasi diri), self regulation (mengatur diri), dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empathy, kemampuan memahami orang lain dan social skill yang memungkinkan setiap orang dapat mengelola konflik dengan orang lain secara baik .

                        Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengendalikan emosinya saat menghadapi situasi yang menyenangkan maupun menyakitkan. Mantan Presiden Soeharto dan Akbar Tandjung adalah contoh orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, mampu mengendalikan emosinya dalam berkomunikasi. Dalam bahasa agama , EQ adalah kepiawaian menjalin "hablun min al-naas".

                        Pusat dari EQ adalah "qalbu" . Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak. Hati adalah sumber keberanian dan semangat , integritas dan komitmen. Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdalam yang memberi dorongan untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani.

C.    Pengertian SQ (Kecerdasan Spiritual )

                        Selain IQ, dan EQ, di beberapa tahun terakhir juga berkembang kecerdasan spiritual (SQ = Spritual Quotiens). Tepatnya di tahun 2000, dalam bukunya berjudul ”Spiritual Intelligence : the Ultimate Intellegence, Danah Zohar dan Ian Marshall mengklaim bahwa SQ adalah inti dari segala intelejensia. Kecerdasan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. Dengan adanya kecerdasan ini, akan membawa seseorang untuk mencapai kebahagiaan hakikinya. Karena adanya kepercayaan di dalam dirinya, dan juga bisa melihat apa potensi dalam dirinya. Karena setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan juga ada kekurangannya. Intinya, bagaimana kita bisa melihat hal itu. Intelejensia spiritual membawa seseorang untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, dan tentu saja dengan Sang Maha Pencipta.

                        Denah Zohar dan Ian Marshall juga mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

                        Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Dari pernyataan tersebut, jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan, karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. Jadi seharusnya IQ, EQ dan SQ pada diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik), Mind (Psikis) and Soul (Spiritual).
                        Selain itu menurut Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001, IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’

                        Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi terkapling-kapling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
                        Mengenalkan SQ Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh. SQ tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri.

 


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

      Pada dasarnya manusia memiliki tiga potensi yang harus dikembangkan dalam menjalankan eksistensi kehidupanya di muka bumi. Ketiga potensi tersebut adalah kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) , dan kecerdasan spiritual (SQ). IQ juga merupakan kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas akal yang berpusat di otak. EQ  adalah kemampuan untuk mengendalilan emosi dan rasional secara bersamaan dengan kondisi yang tepat. SQ adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif

 

B.     Saran

      Demikian makalah ini saya  buat. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan dan pembahasan makalah ini saya mohon maaf.  Kritik dan saran yang membangun sangat saya butuhkan untuk lebih baik ketika membuat makalah kedepannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Ary Ginanjar.  2004. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ Emotional  Sripitual Quontient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga.

Arif Rakhman. 2017. IQ, EQ, Dan SQ.http://arifrakhman15.blogspot.com/2017/01/iq-eq-dan-sq.html. Diakses pada tanggal 22  Maret 2021

http://eprints.radenfatah.ac.id/109/2/BAB%20I.pdf

http://etheses.uin-malang.ac.id/8518/1/13770037.pdf

Puspasari, Amaryllia. 2009. Emotional Intelligent Parenting : Mengukur Emotional Intelligence Anak dan Membentuk Pola Asuh Berdasarkan Emotional Intelligent Parenting. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Senduk ,Yacinta. 2007. Mengasah Kecerdasan Emosi Orang Tua Untuk Mendidik Anak. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Zohar Danah Dan Ian Marshall. 2001. SQ : Kecedasan Spritual. Bandung : PT Mizan Pustaka.

 

Komentar

  1. Terimakasih kepada teman saya Juliana Putri Pasaribu semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menambah pengetahun,Disini saya ingin bertanya tentang bagaimana cara menumbuhkan kecerdasan spritual?
    Terimakasih🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelum nya saya ucapkan Terimakasih kepada teman saya Ernita Hannum yang telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Kecerdasan spiritual bisa digambarkan sebagai bentuk upaya manusia dalam menemukan harapan, arti, dan ketenangan dalam hidupnya.
      Jadi, adapun cara mengembangkan kecerdasan spritual adalah :
      1. Merefleksikan diri terhadap makna hidup.
      2.Mengikuti aktivitas bakti sosial.
      3.Berpartisipasi dalam kegiatan amal terhadap sesama dapat memberi kesempatan bagi Anda untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki panggilan batin yang serupa.
      4. Mau menerima dan membuka diri terhadap perubahan dalam hidup
      5. Melakukan kebaikan terhadap orang lain baik yang dikenal maupun tidak dikenal tanpa pamrih.

      Hapus
  2. Terimakasih saudari juliana dengan tulisan yg bermanfaat dan mendetail tentang kapasitas manusia, disini saya ingin sedikit menanyakan apakah pembahasan saudari tentang pengertian IQ EQ DAN SQ bisa di tetap kan dalam kehidupan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelumnya saya ucapkan Terimakasih kepada Saudari Fatimah yang telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Jawabannya adalah Tentu saja bisa. Karena IQ, EQ, dan SQ merupakan visualisasi dari setiap potensi yang dimiliki manusia. Dimana Ketiga jenis kecerdasan ini harus berjalan beriringan dan salah satunya tidak bisa diunggulkan karena ketiga kecerdasan ini saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang unggul dan menentukan bagaimana seseorang berpikir, bertindak, bersikap, dan berperilaku. Adapun contoh IQ dikehidupan sehari-hari adalah seorang anak mempelajari beberapa mata pelajaran seperti Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, Sejarah, Sosiologi, dan lain-lain. Kegiatan seperti itu hanya fokus pada kecerdasan akademik yang memanfaatkan otak kiri untuk berpikir kritis dan ilmiah, belajar menganalisis, mengaitkan hubungan pelajaran yang didapatkan dari sekolah dengan lingkungan sekitar dan kesehariannya, serta menyelesaikan soal yang diberikan.
      Contoh EQ adalah seorang anak mampu mengekspresikan dan mengontrol rasa bahagianya ketika mendapatkan nilai ujian yang bagus atau rasa sedih dan kecewanya ketika mendapatkan nilai ujian yang jelek untuk tidak berlarut atau berlebihan.
      Contoh SQ adalah seorang anak mampu menyimpulkan dan mengambil hikmah ketika dirinya kecewa saat mendapatkan nilai ujian yang jelek akibat kelalaian dirinya tidak belajar dengan rajin

      Hapus

Posting Komentar